Rukun Iman
Pengertian
istilah Iman
Iman
secara bahasa berarti tashdiq (membenarkan). Sedangkan secara istilah syar’i,
iman adalah "Keyakinan dalam hati, Perkataan di lisan, amalan dengan
anggota badan, bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan
maksiat". Para ulama salaf menjadikan amal termasuk unsur keimanan. Oleh
sebab itu iman bisa bertambah dan berkurang, sebagaimana amal juga bertambah
dan berkurang". Ini adalah definisi menurut Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam
Ahmad, Al Auza’i, Ishaq bin Rahawaih, madzhab Zhahiriyah dan segenap ulama
selainnya.
Dengan
demikian definisi iman memiliki 5 karakter: keyakinan hati, perkataan lisan,
dan amal perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang.:
Imam
Syafi’i berkata, “Iman itu meliputi perkataan dan perbuatan. Dia bisa bertambah
dan bisa berkurang. Bertambah dengan sebab ketaatan dan berkurang dengan sebab
kemaksiatan.” Imam Ahmad berkata, “Iman bisa bertambah dan bisa berkurang. Ia
bertambah dengan melakukan amal, dan ia berkurang dengan sebab meninggalkan
amal.”Imam Bukhari mengatakan, “Aku telah bertemu dengan lebih dari seribu
orang ulama dari berbagai penjuru negeri, aku tidak pernah melihat mereka
berselisih bahwasanya iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan
berkurang.”
Murid
Al Imam Syafi’i yang bernama Ar-Rabi’ berkata: “Aku mendengar Al-Imam
Asy-Syafi’i berkata: “Iman adalah ucapan dan amalan, bertambah dan
berkurang.”
Pada
riwayat yang lain terdapat tambahan: “Bertambah dengan ketaatan dan berkurang
dengan kemaksiatan.” Kemudian beliau membaca ayat:
وَيَزْدَادَ
الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا
“Dan
agar bertambah keimanan orang-orang yang beriman.” (Al-Muddatstsir: 31)
Makna bertambah
dan berkurangnya iman seperti yang ditanyakan oleh putra Imam Ahmad
yaitu Shalih rahimahullahu. Shalih rahimahullahu berkata: “Aku bertanya kepada
ayahku, apa itu makna bertambah dan berkurangnya iman?”. Beliau menjawab:
“Bertambahnya iman adalah dengan adanya amalan, berkurangnya adalah dengan meninggalkan
amalan, seperti meninggalkan shalat, zakat, dan haji.”
Rukun Iman
Rukun
Iman ada 6 (enam), yaitu:
1.
Iman kepada Allah
Iman kepada Allah adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah adalah Rabb dan
Raja segala sesuatu, Dialah Yang Mencipta, Yang Memberi Rizki, Yang
Menghidupkan, dan Yang Mematikan, hanya Dia yang berhak diibadahi. Kepasrahan,
kerendahan diri, ketundukan, dan segala jenis ibadah tidak boleh diberikan
kepada selain-Nya, Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, keagungan, dan
kemuliaan, serta Dia bersih dari segala cacat dan kekurangan.
Seseorang
tidak dikatakan beriman kepada Allah hingga dia mengimani 4 hal:
Ø
Mengimani adanya Allah.
Ø
Mengimani rububiah Allah, bahwa tidak ada yang
mencipta, menguasai, dan mengatur alam semesta kecuali Allah.
Ø
Mengimani uluhiah Allah, bahwa tidak ada
sembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengingkari semua sembahan
selain Allah Ta’ala.
Ø
Mengimani semua nama dan sifat Allah (al-Asma'ul
Husna) yang Allah telah tetapkan untuk diri-Nya dan yang nabi-Nya tetapkan
untuk Allah, serta menjauhi sikap menghilangkan makna, memalingkan makna,
mempertanyakan, dan menyerupakanNya.
2.
Iman kepada para malaikat Allah:
Iman kepada malaikat adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah memiliki
malaikat-malaikat, yang diciptakan dari cahaya. Mereka, sebagaimana yang telah
dijelaskan oleh Allah, adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan. Adapun yang
diperintahkan kepada mereka, mereka laksanakan. Mereka bertasbih siang dan
malam tanpa berhenti. Mereka melaksanakan tugas masing-masing sesuai dengan
yang diperintahkan oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat
mutawatir dari nash-nash Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Jadi, setiap gerakan di
langit dan di bumi, berasal dari para malaikat yang ditugasi di sana, sebagai
pelaksanaan perintah Allah Azza wa Jalla. Maka, wajib mengimani secara tafshil (terperinci),
para malaikat yang namanya disebutkan oleh Allah, adapun yang belum disebutkan
namanya, wajib mengimani mereka secara ijmal (global). Jumlah malaikat tidak
ada seorangpun yang tahu dan hanya Allah SWT yang mengetahuinya dimana Malaikat
diciptakan oleh Allah SWT dari cahaya Orang islam wajib mengimani 10 malaikat
yaitu: a) Malaikat Jibril; b) Malaikat Mikal; c) Malaikat Rakib; d) Malaikat Atid e) Malaikat Mungkar; f) Malaikat Nakir; g) Malaikat Izrail; h) Malaikat Israfil; i) Malaikat Malik; j) Malaikat Ridwan
3.
Iman kepada kitab-kitab Allah
Maksudnya
adalah, meyakini dengan sebenarnya bahwa Allah memiliki kitab-kitab yang
diturunkan-Nya kepada para nabi dan rasul-Nya, yang benar-benar merupakanKalam (firman,
ucapan)-Nya. Ia adalah cahaya dan petunjuk. Apa yang dikandungnya adalah benar.
Tidak ada yang mengetahui jumlahnya selain Allah
Mengimami
bahwa kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT ada 4 (empat) yaitu:
ü
Kitab Suci Taurat
ü
Kita Suci Zabur
ü
Kitab Suci Injil
ü
Kitab Suci Al-Qur'an
Muslim wajib
mengimani bahwa Al-Qur'an merupakan penggenapan kitab-kitab suci
terdahulu
4.
Iman kepada para rasul Allah:
Iman kepada rasul-rasul merupakan keyakinan yang kuat
bahwa Allah telah mengutus para rasul untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan
kepada cahaya. Kebijaksanaan-Nya telah menetapkan bahwa Dia mengutus para rasul
itu kepada manusia untuk memberi kabar gembira dan ancaman kepada mereka. Maka,
wajib beriman kepada semua rasul secara ijmal sebagaimana
wajib pula beriman secara tafshilkepada siapa di antara mereka yang
disebut namanya oleh Allah, yaitu 25 diantara mereka yang disebutkan oleh Allah
dalam Al-Qur’an. Wajib pula beriman bahwa Allah telah mengutus rasul-rasul dan
nabi-nabi selain mereka, yang jumlahnya tidak diketahui oleh selain Allah, dan
tidak ada yang mengetahui nama-nama mereka selain Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Tinggi. Wajib pula beriman bahwa Muhammad shalalallahu alaihi wa salam
adalah yang paling mulia dan penutup para nabi dan rasul, risalahnya meliputi
bangsa jin dan manusia, serta tidak ada nabi setelahnya.
Di dalam kitab suci Al-Qur'an terdapat nama dua puluh
lima Rasul Allah, yang satu persatunya disebutkan dengan nyata, yaitu : Adam, Idris, Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, Luth, Ismail, Ishak, Yaakub, Yusuf, Ayub, Zulkifli, Syu'aib, Musa, Harun, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Yunus, Zakharia, Yahya,Isa, dan Muhammad
Beberapa dalil mengenai adanya rasul Allah adalah
sebagai berikut:
a) "Kami utus pada setiap ummat itu
seorang Rasul", (Nahal, 16:36).
b) "Kami tidak akan memikulkan siksa
(atas sesuatu ummat) kecuali lebih dahulu Kami utus seorang
Rasul," (Isra', 17:15).
5.
Iman kepada hari akhir/kebangkiatan
Iman kepada hari akhir /kebangkitan setelah mati merupakan keyakinan yang
kuat tentang adanya negeri akhirat (kiamat) . Mengimani hari kebangkitan di padang mahsyar
hingga berakhir di Surga atau Neraka.
Di negeri itu Allah akan membalas kebaikan orang-orang yang berbuat baik dan
kejahatan orang-orang yang berbuat jahat. Allah mengampuni dosa apapun selain
syirik, jika Dia menghendaki. Pengertian alba’ts (kebangkitan)
menurut syar’i adalah dipulihkannya badan dan dimasukkannya kembali nyawa ke
dalamnya, sehingga manusia keluar dari kubur seperti belalang-belalang yang
bertebaran dalam keadaan hidup dan bersegera mendatangi penyeru.
6.
Iman kepada qada dan qadar, yaitu takdir yang
baik dan buruk:
Iman kepada Qada dan
qadar adalah meyakini secara
sungguh-sungguh bahwa segala kebaikan dan keburukan itu terjadi karena takdir
Allah. Allah ta’ala telah mengetahui kadar dan waktu terjadinya segala sesuatu
sejak zaman azali, sebelum menciptakan dan mengadakannya dengan kekuasaan dan
kehendak-Nya, sesuai dengan apa yang telah diketahui-Nya itu. Allah telah
menulisnya pula di dalam Lauh Mahfuzh sebelum menciptakannya.
Allah berfirman ”Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut
qadar (ukuran).” (Al-Qomar: 49)
Komentar