Penjelasaan dua Kalimat Shadat
Dua Kalimat Syahadat Merupakan Syarat
Sah Islam
Asyhadu alla ilaaha illallah
Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal,
untuk meng-islam-kan sekelompok orang yang tinggal di negeri Yaman. Sebelum
Sahabat Mu’adz bin Jabal berangkat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada Mu’adz
: “Ajaklah mereka agar mau
bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah,
dan bahwasanya aku adalah utusan Allah. Apabila mereka telah melakukan hal
tersebut (bersyahadat) maka beritahulah kepada mereka bahwasanya Allah telah
mewajibkan kepada mereka solat lima waktu sehari semalam. Lalu apabila mereka
telah melakukan hal tersebut, maka beritahulah kepada mereka bahwasanya Allah
telah mewajibkan kepada mereka untuk mensedekahkan harta mereka, yang sedekah
tersebut diambil dari orang-orang kaya dari mereka, dan diberikan kepada orang-orang
miskin dari mereka” (HR.
Bukhori)
Dari hadits di atas, kita bisa mengambil pelajaran
bahwasanya bersaksi dengan dua kalimat syahadat adalah syarat sah islam. Sholat
dan zakat barulah diperintahkan setelah mereka mau bersaksi dengan dua kalimat
syahadat. Jika mereka tidak mau bersaksi, maka sholat, zakat, dan amalan-amalan
lainnya tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala.
Makna Syahadat
Syahadat artinya adalah persaksian. Dalam hal ini,
persaksian barulah dianggap sebagai sebuah persaksian ketika telah mencakup
tiga hal : 1) Mengilmui dan meyakini kebenaran yang dipersaksikan. 2)
Mengucapkan dengan lisannya. 3) Menyampaikan persaksian tersebut kepada yang
lain (Mutiara Faedah Kitab Tauhid, Ustadz Abu Isa).
Persaksian tidaklah cukup di lisan saja, sebagaimana
yang dilakukan oleh orang-orang munafik yang diancam oleh Allah dengan adzab
neraka. Orang-orang munafik mengucapkan dua kalimat syahadat dengan lisan,
namun hati mereka tidak membenarkannya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami
bersaksi bahwasanya engkau benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa
sesungguhnya engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwasanya
orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (QS. Al Munafiquun: 1)
Begitu juga sebaliknya, syahadat ini tidak cukup
diyakini dalam hati tanpa diucapkan. Paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Abu
Thalib) adalah orang yang dengan segenap kekuatan, harta benda dan jabatannya
telah membantu dakwah Rasul shallallahu
‘alaihi wa sallam. Kenapa dia rela melakukan hal demikian? Suatu ketika
dia pernah mengakui bahwa sebenarnya ajaran agama yang paling benar adalah
agama yang dibawa keponakannya. Namun sayang seribu sayang, sampai nyawanya
sudah di tenggorokan dia tidak mau mengucapkan dua kalimat syahadat. Akhirnya
dia pun mati dalam keadaan kafir. Kita
mohon perlindungan kepada Allah dari keadaan seperti itu.
Makna Asyhadu alla ilaaha illallah
Asyhadu alla ilaaha
illallah artinya aku
bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Dalam
syahadat ini terdapat penafian (penolakan) sesembahan selain Allah
dan penetapan bahwa sesembahan yang benar hanya Allah. Adalah sebuah
kenyataan bahwasanya di dunia ini terdapat banyak sesembahan selain Allah. Ada
orang yang menyembah kuburan, pohon, batu, jin, wali, dan lain-lain. Akan
tetapi semua sesembahan tersebut tidak berhak untuk disembah, yang berhak
disembah hanya Allah.
Allah berfirman (yang artinya): “Yang demikian itu adalah karena
Sesungguhnya Allah Dialah (tuhan) yang haq dan Sesungguhnya segala sesuatu yang
mereka seru selain Allah, itulah yang batil. Dan Sesungguhnya Allah, Dialah
yang Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. Al Hajj: 62). Allah juga
berfirman (yang artinya): “Maka
barangsiapa yang ingkar kepada sesembahan selain Allah dan beriman pada Allah,
sungguh dia telah berpegang pada tali yang sangat kuat.” (QS. Al
Baqarah:256)
Makna Asyahadu anna Muhammadar Rasulullah
Asyhadu anna Muhammadar
Rasulullah artinya aku
bersaksi bahwasanya Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam adalah Rasul Allah. Rasul adalah seseorang yang
diberi wahyu oleh Allah berupa syari’at dan ia diperintahkan untuk mendakwahkan
syari’at tersebut (Syarah Arba’in an
Nawawiyah, Syaikh Al ‘Utsaimin). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada
di tanganNya! Tidaklah mendengar kenabianku salah seorang dari umat ini, baik
itu Yahudi atau pun Nasrani, lalu ia meninggal sementara ia tidak beriman
dengan apa yang aku bawa, kecuali ia akan termasuk penduduk neraka” (HR.
Muslim)
Perlu diingat, selain beliau adalah seorang Rasul
Allah, beliau juga berstatus sebagai Hamba Allah. Di satu sisi kita harus
mencintai dan mengagungkan beliau sebagai seorang Rasul, di sisi lain kita
tidak boleh mengagungkan beliau secara berlebihan. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku hanyalah hamba, maka
sebutlah: hamba Allah dan Rasul-Nya.”
Beliau Shallallahu
‘Alaihi Wa sallam tidak boleh kita anggap memiliki sifat-sifat yang
berlebihan, atau memiliki sifat-sifat yang hanya dimiliki oleh Allah, semisal:
menganggap beliau mengetahui perkara yang ghaib, mampu mengabulkan do’a, mampu
menghilangkan kesulitan kita, dan lain-lain.
Syahadat harus diterapkan
Ketahuilah, jika seseorang telah bersaksi dengan dua
kalimat syahadat, ada hak dan kewajiban yang harus ia lakukan. Diantara hak
yang didapatkannya adalah haramnya darah dan hartanya. Maksudnya, seseorang
yang telah bersaksi dengan dua kalimat syahadat tidak boleh untuk diperangi,
ditumpahkan darahnya, dan dirampas hartanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia,
sampai mereka mau bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah
kecuali Allah, dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, dan mendirikan
sholat, serta menunaikan zakat. Apabila mereka telah melakukan hal tersebut,
mereka telah menjaga darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan hak islam.
Adapun hisab mereka adalah urusan Allah Ta’ala” (HR. Bukhori dan
Muslim)
Komentar